Beranda Tips Pertanian & Perkebunan Anda Harus Tahu, Ternyata Ini Perbedaan Pertanian Organik dan Konvensional

Anda Harus Tahu, Ternyata Ini Perbedaan Pertanian Organik dan Konvensional

1072

Perbedaan Pertanian Organik dan Konvensional

Tips Sikumis – Apakah Anda sudah tahu apa perbedaan pertanian organik dan konvensional? Sepertinya saat ini pemerintah Indonesia memang sedang gencar-gencarnya menghimbau para petani, untuk lebih banyak menghasilkan produk pertanian organik, daripada pertanian konvensional.

Sebenarnya untuk cara bercocok tanamnya tidak jauh berbeda, hanya saja yang membedakan adalah dari bahan-bahan yang digunakan. Untuk lebih jelasnya tentang perbedaan dari kedua jenis pertanian ini, mari simak pembahasan lengkapnya.

Pertanian Konvensional Masih Menggunakan Bahan Kimia

Pertanian konvensional diartikan sebagai suatu sistem pertanian yang banyak dikembangkan di seluruh dunia. Dimana sistem pertanian ini berorientasi pada industri seperti penggunaan bibit hybrid, pupuk kimia dosis tinggi, serta penggunaan herbisida dan insektisida.

Rekomendasi produk: Harga Benih Jagung Hibrida Betras 1 sikumis

Tujuan dari sistem pertanian ini adalah untuk meningkatkan hasil produksi tanaman melalui penambahan unsur eksternal, dengan harapan akan didapatkan hasil produksi yang lebih tinggi.

Kata konvensional sendiri merujuk pada segala sesuatu atau kegiatan berdasarkan konvensi. Sehingga segala sesuatu yang akan dikerjakan harus berdasarkan ketentuan yang telah disepakati sesuai dengan peraturan perundang-udangan.

Hal ini berarti dalam penggunaan bahan-bahan kimia pada pertanian konvensional juga memiliki aturan tertentu.

Pertanian konvensional masih banyak dipertahankan di Indonesia mengingat dari segi biaya operasional, jelas pertanian ini masih lebih terjangkau daripada pertanian modern atau organik.

Karena harga pupuk, obat dan bibit dalam pertanian konvensional masih memiliki harga yang murah di pasaran.

Sehingga dengan taraf hidup para petani di Indonesia yang masih rendah, mereka lebih memilih mempertahankan sistem pertanian konvensional.

Meskipun dalam hal ini mereka juga mempertahankan harga jual hasil pertanian yang segitu-gitu saja tanpa adanya peningkatan nilai jual hasil pertanian. Mungkin ini yang menjadi salah satu perbedaan pertanian organik dan konvensional.

Sebenarnya, sistem pertanian konvensional yang masih dipertahankan di Indonesia juga memiliki resiko dari segi kelestarian lingkungan hidup. Hal ini karena sisa-sisa dari pupuk anorganik serta pestisida terakumulasi dalam tanah.

Hal tersebut juga akan membuat tanah pertanian menjadi tidak gembur atau semakin gersang, tandus dan menyebabkan pencemaran tanah dan air.

Keunggulan dan Manfaat Pertanian Organik

Meskipun masih banyak dan sebagian besar petani Indonesia masih menggunakan sistem pertanian konvensional, namun ada juga para petani yang lebih memilih sistem pertanian modern yaitu dengan menggunakan pertanian organik.

Beberapa sistem pertanian modern yang sudah dikembangkan di negara ini seperti sistem pertanian monokultur, hidroponik, teknik vertikultur tanaman, kultur jaringan dan lainnya.

Perbedaan pertanian organik dan konvensional juga terlihat skala prioritas, dimana pada pertanian konvensional mungkin lebih mengutamakan kuantitas. Sedangkan pada pertanian organik ini lebih memperhatikan unsur seperti, kestabilan ekosistem dan kesimbangan unsur dalam tanah.

Rekomendasi produk : Harga Pupuk Bio Organik Plus Pomi sikumis

Inilah yang menjadi motivasi pemerintah untuk terus mendorong para petani agar meningkatkan hasil pertanian dari sistem pertanian organic. Karena cenderung lebih menjaga keharmonisan antara ekosistem dengan tanaman alami.

Apalagi dengan sistem pertanian organik, polusi tanah juga bisa ditekan seminimal mungkin. Karena jenis pupuk yang digunakan dalam pertanian organik lebih mengandalkan jenis kompos yang dapat menjaga unsur karbon tanah. Beberapa aspek yang bisa menjadi keunggulan dari sistem pertanian organik diantaranya:

  • Keawetan

Hasil dari pertanian organik cenderung lebih awet dan tahan lama, jika dibandingkan dengan hasil dari peranian konvensional. Ini karena pertanian organik menggunakan bahan-bahan alami yang tidak mengandung unsur kimiawi, seperti pada pertanian konvensional.

  • Ketahanan Pangan

Secara tidak langsung, dengan menerapkan sistem pertanian organik justru dapat menjaga ketahanan pangan secara nasional. Karena dalam penggunaan sistem pertanian konvensional mungkin bisa tinggi di awal, namun semakin lama ketahan pangan menurun.

  • Kesehatan

Penggunaan bahan-bahan kimia pada sistem pertanian konvensional cenderung mengandung zat-zat yang dapat merugikan kesehatan. Sedangkan pada sistem pertanian organik, tentu saja menghasilkan hasil pertanian yang lebih menyehatkan karena terhindar dari penggunaan bahan-bahan kimia.

Hasil Pertanian Organik Memiliki Nilai Jual Lebih Tinggi

Tidak hanya dilihat dari sisi kualitasnya saja, hasil dari pertanian organik juga memiliki harga jual yang lebih tinggi. Setidaknya harga jualnya bisa 25-30% lebih tinggi dibandinga hasil pertanian biasa.

Sehingga seharusnya dengan harga hasil pertanian yang bagus dapat membantu meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat petani.

Selain itu, petani organik juga bisa memanfaatkan pupuk organik dari kotoran ternak atau sisa hasil panen sebagai sumber hara, sehingga dapat menekan biaya operasional.

Dalam sistem pertanian ini, para petani juga tidak perlu risau dengan harga pupul anorganik yang terkadang bisa sangat mahal di Indonesia.

Meskipun secara umum melihat perbedaan pertanian organik dan konvensional, pertanian organik memang jelas memiliki banyak keunggulan.

Namun sayangnya belum banyak petani yang sadar akan potensi pertanian organik ini. Sehingga masih banyak yang bertahan dengan sistem pertanian biasa atau konvensional.

Pertanian Organik sebagai Solusi Pertanian Berkelanjutan

Saat ini tren hasil pertanian organik mulai dilirik oleh masyarakat yang ingin beralih ke budaya hidup yang lebih sehat. Pelaku pertanian organik pun juga mulai bermunculan seiring pangsa pasar yang semakin terbuka.

Tidak hanya karena secara ekonomis lebih tinggi, namun pertanian organik juga sangat penting untuk perbaikan ekosistem pertanian yang saat ini kian rusak akibat paparan bahan sintetik dan kimiawi.

Para ahli bidang pertanian pun juga membenarkan bahwa perlu adanya promosi pertanian organik sebagai solusi pertanian yang berkelanjutan di Indonesia.

Petani konvensional harus diberikan pemahaman bahwa dalam penanganan hama dan penyakit tidak melulu harus melalui pestisida sintetik saja. Begitu juga untuk jenis pupuk yang digunakan.

Tanaman yang dikeloa dengan cara organik justru lebih tahan terhadap hama penyakit. Ini berkaitan dengan kesuburan tanaman dan juga karena tumbuh di tanah yang sehat.

Ketika tanah subur, maka tanaman juga akan tumbuh lebih bagus dan tahan terhadap hama. Sebaliknya ketika tanag terlalu banyak mengandung bahan sintetik, maka akan membuat mikoorganisme tanah tidak bisa berkembang dengan baik.

Padahal mikoorganisme merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Misalnya dalam penggunaan pupuk urea dalam sistem pertanian konvensioal, dimana dengan dosis yang tinggi justru dapat menurunkan kualitas tanah serta membunuh mikoorganisme.

Meskipun hingga saat ini penggunaan urea masih diperbolehkan, namun juga harus sesuai dengan aturan yang berlaku. Padahal banyak sekali petani biasa yang menggunakan pupuk serta pestisida bukan dalam takaran yang tepat.

Untuk mengubah lahan konvensional menjadi lahan pertanian organik juga bukan sesuatu yang mudah. Apalagi dengan kondisi tanah yang sudah tercemar berat, sehingga perlu adanya perbaikan tanah terlebih dahulu. Biasanya membutuhkan waktu 6 bulan hingga 1 tahun untuk pemulihan kondisi tanah.

Mungkin ini yang menjadi alasan para petani konvensional yang enggan beralih ke pertanian organik. Akan tetapi dengan melihat perbedaan pertanian secara organik dan konvensional seperti yang sudah dijelaskan di atas, maka seharusnya pemerintah harus semakin gencar untuk mempromosikan sistem pertanian ini.

#gerakanpetanimodern